Mushola Dibuat di Bawah Tanah

Mushola Dibuat di Bawah Tanah

Mushola Dibuat di Bawah Tanah – Tentunya lokasi Mushola dapat dibuat di mana saja tanpa adanya kendala apapun bahkan di bawah tanah.

Rumah Beribadah umat Muslim ini ada yang dibuat di atas laut, ada juga yang di bawah tanah.

Mushola Ini Dibuat di Bawah Tanah, Sunyi dan Tenang dan Adat Untuk Bubur di Masjid Raya Al Mashun

Empat mushola unik di Indonesia ini. Walau dibuat di bawah tanah, tetapi tidak mengusik kenyamanannya sebagai tempat ibadah. Justru dapat semakin tenang yang ingin itikaf. Yok, dibaca!

Mushola Baabul Munawwar, Papua

Mushola ini sempat pernah menyikat gelar rekor dunia sebagai mushola dengan posisi paling dalam, yaitu di kedalaman 1.700 mtr. di permukaan tanah. Selain itu Mushola yang dibuat oleh PT Freeport ini berada di tempat pertambangannya di Tembagapura, Mimika, Papua.

Baca Juga: Upacara Kematian Paling Unik

Antiknya, mushola ini berdampingan dengan Gereja Oikumene Soteria yang ada di bawah tanah. Ini adalah usaha untuk memberikan dukungan aktivitas rohani pegawainya, supaya tidak perlu bolak-balik naik dari pertambangan saat ingin beribadah.

Mushola Dibuat di Bawah TanahTamansari, Yogyakarta

Walau sesungguhnya namanya Mushola Sumur Gumuling, tetapi warga lebih akrab meyebutnya Mushola Bawah Tanah Tamansari. Posisi mushola ini ada dalam tempat Keraton Yogyakarta Hadiningrat, persisnya kompleks Pemandian.

Kecuali sebagai tempat beribadah, beberapa orang tiba untuk berekreasi karena ketarik dengan design bangunannya yang unik. Ada lima tangga yang melingkari bangunan sebagai simbol rukun Islam. Untuk masuk di dalam area mushola, kamu akan melalui lorong panjang yang sering jadi posisi berpose karena situasi vintage-nya.

Mushola Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi, Tuban, Jawa Timur

Awalannya posisi ini adalah gua alami saat sebelum disihir K.H. Shubhan jadi tempat beribadah yang unik dan cantik. Mushola Aschabul Kahfi Perut Bumi Al Maghribi berada di Jalan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Tuban, Jawa Timur.

Demikian mengambil langkah ke tempat mushola, kamu akan mendapati banyak kaligrafi yang terukir cantik di sejauh dindingnya. Masuk lebih dalam, batu-batuan alam yang eksotis masih didiamkan menggantung sebagai langit-langit masjid. Eksotis sekali!

Mushola Goa Muhammad, Mojokerto, Jawa Timur

Mushola Goa Muhammad berada pas di bawah Mushola Agung Wisnu Manunggal, Desa Losari, Dusun Pekukuhan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Masyarakat mengatakan begitu sebagai wujud penghormatan pada Nabi Muhammad SAW.

Untuk ke arah Mushola Goa Muhammad, kamu harus melalui gapura di samping timur yang mempunyai tangga ke arah bawah tanah. Tempat ini sering digunakan untuk mendapatkan ketenangan dan itikaf.

Wah, bagus sekali ya! Mumpung bulan suci Ramadan, kamu dapat mendatanginya untuk melaksanakan ibadah sekalian rekreasi religius lho.

Asyiknya Rebutan Bubur Beberapa Raja di Mushola Raya Al Mashun

Umumnya, adat membagi-bagi bubur akan dilaksanakan sampai 27 Ramadan. Setiap hari, beberapa juru masak dapat habiskan 30 kiogram beras bersama bermacam jenis sayur lainnya.

Usai diproses, beberapa bahan itu dapat hasilkan 900 jatah bubur baik yang dibagi atau di makan di pelataran Mushola sebagai menu berbuka.Para juru masak telah siap-siap semenjak pagi. Mereka mulai menggunting sayur mayur, membersihkan beras dan daging. Terlepas Zuhur, jelanga mulai dipanaskan.

Semua bahan selanjutnya diolah bertepatan sampai tanak.”Seputar empat jam itu baru tanak buburnya, jadi nikmat rasanya,” kata Darlis, juru masak lainnya.Lelaki sepuh itu mulai mengolah bubur semenjak 2004 lalu. Tidak ada formasi yang berbeda. Beberapa juru masak memang stabil jika masalah rasa.Dulu banyak yang menduga, bubur sup ialah bubur pedas.

Rupanya itu salah. Karena ada ketidaksamaan yang berarti di antara ke-2 nya. Untuk bubur pedas umumnya dikonsumsi dengan anyang, yakni sayur pakis dan toge yang diproses demikian rupa dengan cabai, udang kering, kelapa kukur asam jeruk dan goreng.Sedangkan bubur sup memiliki bahan landasan beras, sayur dan daging. Ditambahkan rempah-rempah sebagai bumbu masaknya.

“Saat ini bahan pengerjaan bubur pedas susah didapat. Yang dapat mengolah juga terbatas orangnya,” tandasnya.Untuk warga yang ingin nikmati bubur sup, cukup tiba ke Mushola Raya Al Mashun Medan saat ramadan.

Suara lantunan ayat suci Alquran mulai kedengar mendekati waktu salat Ashar di Mushola Raya Al Mashun, Rabu (8/5). Beberapa jamaah lalu siap-siap untuk melakukan salat berjamaah.

Di tengah asap, 3 orang repot menggenggam sendok pengaduk. Tangannya terlihat mahir mengeduk racikan bubur sop ciri khas Melayu dalam jelanga tembaga di atas tungku api.

Bubur sop sering jadi buruan beberapa jamaah di saat Ramadan. Karena itu mereka ikhlas mengantre untuk rasakan kesan buka dengan bubur yang dikenali jadi makanan ciri khas Raja-Raja Melayu.

  1. Bubur sop diolah oleh koki yang telah sepuh dan eksper

Wewangian rempah yang lumayan kuat hinggap ke dalam hidung dari jarak sepuluh mtr. dari dapur. Memancing siapa saja yang menciumnya.

Azan Ashar juga datang, koki yang mengolah dalam dapur meluangkan diri untuk salat secara bertukaran. Beberapa yang lain lainnya jaga api dan mengeduk bubur agar tanak. Masyarakat seputar dan pendatang juga telah menempatkan tempat masing-masing di muka dapur.

Beberapa koki yang bekerja mengolah bubur sop telah berpengalaman. Salah satunya bahkan juga telah berusia sepuh. Pengetahuan mengolah bubur sop kabarnya terus di turunkan ke angkatan-generasi berikutnya.

  1. Selesai Ashar jadi peristiwa rebutan bubur raja

Ashar juga usai. Tetapi di muka dapur telah berjejer tempat-wadah bermacam jenis warna dan ukuran.

Koki mulai memberikan bubur. Jeritan beberapa bocah yang sejak dari barusan menanti muai kedengar. “Punyai ku lebih dulu yah wak. Sudah dari barusan awak tunggu,” kata seorang bocah, Rabu (8/5).

Tangan-tangan yang lain juga meraih tempat yang telah berisi bubur. Panorama rebutan bubur sop ini telah terbiasa saat Ramadan. Karena menjadi adat beberapa puluh tahun.

  1. Riwayat membagi-bagi bubur sop diawali pada 1909

Pembagian bubur sop di Mushola Raya Al Mashun rupanya punyai cerita. Adat itu kabarnya telah ada semenjak tahun 1909. Waktu itu kesultanan Deli dipegang Sultan Makmun Al Rasyid Gagah Alam Syah.

“Iya betul. Telah dari jaman sultan. Dahulu bubur ini makanan beberapa raja,” kata Hamdan, juru masak bubur sup di Mushola Raya Al Mashun Medan, Jumat (18/5). Adat ini dilaksanakan kesultanan sampai 27 Ramadan nanti.

  1. Juru masak siapkan 1000 jatah setiap hari

Jika inginkan bubur sop Mushola Raya, tiba lebih awal. Jika tidak kita dapat gigit jemari karena tidak dapat bawa pulang bubur.

Ini saja kami bela-belain tiba dari Denai sana. Kami ingin makan bubur ini. Sudah jadi rutinitas setiap tahun ini,” kata Muklis, salah seorang warga.

Darlis yang semenjak 2004 menjadi koki bubur sop menjelaskan, tahun ini faksinya mempersiapkan 1.000 jatah setiap hari. Beberapa jatahnya akan dipersiapkan untuk makanan buka di Masjid.

  1. Masih stabil masalah rasa

Beberapa juru masak telah siap-siap semenjak pagi. Mereka mulai menggunting sayur mayur, membersihkan beras dan daging. Terlepas Zuhur, jelaga mulai dipanaskan. Semua bahan selanjutnya diolah bertepatan sampai tanak.

Lelaki sepuh menjelaskan tidak ada formasi yang berbeda. Beberapa juru masak memang stabil jika masalah rasa.

Dahulu banyak yang menduga, bubur sup ialah bubur pedas. Rupanya itu salah. Karena ada ketidaksamaan yang berarti di antara ke-2 nya. Untuk bubur pedas umumnya dikonsumsi dengan anyang, yakni sayur pakis dan toge yang diproses demikian rupa dengan cabai, udang kering, kelapa kukur asam jeruk dan goreng.

Sedang bubur sup memiliki bahan landasan beras, sayur dan daging. Ditambahkan rempah-rempah sebagai bumbu masaknya.

“Saat ini bahan pengerjaan bubur pedas susah didapat. Yang dapat mengolah juga terbatas orangnya,” tandasnya.